Proses Pembuatan Filter Busa Keramik Berpori Tahan Api

Proses Pembuatan Filter Busa Keramik Berpori Tahan Api

Proses Pembuatan Filter Busa Keramik Berpori Tahan Api

Proses Pembuatan Filter Busa Keramik Berpori Tahan Api Untuk memenuhi standar kualitas coran aluminium yang terus meningkat, penggunaan filter busa keramik CFF telah menjadi semakin penting. Filter juga banyak digunakan dalam pengecoran pasir biasa, seperti pengecoran pasang surut, serta pengecoran cetakan permanen, seperti pengecoran komponen aluminium untuk kendaraan bermotor.
Filter busa keramik tahan api menggunakan proses filtrasi yang didasarkan pada pertimbangan-pertimbangan berikut. Di satu sisi, filtrasi membuat aliran aluminium cair menjadi teratur dan relatif tenang; di sisi lain, proses ini secara efektif menghilangkan terak padat dalam logam cair dan dengan cepat meningkatkan kualitas coran.

Filter busa keramik berpori tahan api yang dibuat melalui proses pengecoran dapat secara efektif menghilangkan inklusi padat dalam logam cair, sehingga paduan aluminium dapat ditempa dengan lancar, serta digunakan dalam proses pembuatan foil aluminium dan ekstrusi untuk menghasilkan produk aluminium yang sempurna.
Produk ini memiliki ukuran lubang kasar sebesar 20 ppi dan ukuran lubang sangat halus sebesar 60 ppi, sehingga selalu ada standar produk yang sesuai dengan kebutuhan Anda. Baik ukuran standar maupun ukuran khusus yang diminta oleh pelanggan dapat memenuhi persyaratan tersebut.

Proses Pembuatan Filter Busa Keramik Berpori Tahan Api

Porositas Filter Busa Keramik Berpori Tahan Api Hasil Cor
Porositas adalah persentase volume total rongga pada produk pelat filter terhadap volume total produk pelat filter tersebut.
Porositas menentukan kapasitas filtrasi per satuan volume pada pelat filter keramik berbahan busa.
Semakin tinggi porositasnya, semakin besar laju aliran filtrasi pelat filter, dan semakin tinggi kapasitas filtrasinya.

Saat ini terdapat dua metode utama untuk menentukan porositas.
Salah satu caranya adalah dengan menghitung volume lubang-lubang pada pelat filter berdasarkan hukum Archimedes, yaitu dengan menggunakan pipa luapan untuk menuangkan air ke dalam gelas kimia hingga air tersebut mengalir keluar dari pipa luapan.
Jika air tidak lagi mengalir keluar, air tersebut akan diuji.
Masukkan semua sampel ke dalam air dengan hati-hati, lalu biarkan air mengalir keluar melalui pipa luapan, dan ukur volume air di bagian ini.
Kurangi volume air yang meluap dari volume fisik pelat saring, yang merupakan volume total lubang-lubang pada pelat saring tersebut.
Metode lainnya adalah dengan menentukan massa jenis sebenarnya dan massa jenis volume sampel yang akan diuji, kemudian menghitung porositas sampel tersebut berdasarkan rumus berikut.
Kedua metode tersebut masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangannya.
Cara pengoperasiannya sederhana dan praktis, serta kecepatan pendeteksiannya tinggi, namun kelemahan fatalnya terletak pada sifat penyerapan air dari bahan pelat filter itu sendiri, sehingga jumlah air yang dikeluarkan lebih sedikit daripada jumlah air yang sebenarnya. Hal ini menyebabkan data yang diukur menjadi terlalu kecil.
Meskipun proses pengujian pada metode kedua lebih rumit, pengaruh laju penyerapan air bahan pelat saring dapat dikesampingkan selama pengujian, sehingga data yang diperoleh relatif akurat.
Dalam standar ini, indeks porositas ditetapkan lebih besar dari 84%.

No Comments

Post A Comment