06 Des Filter Keramik Indonesia Aluminium
Dibandingkan dengan teknologi sebelumnya, Filter Keramik Aluminium Indonesia memiliki keunggulan berupa ketahanan yang tinggi terhadap guncangan termal serta ketahanan yang tinggi terhadap korosi, kekuatan yang memadai, produksi yang ekonomis, perlindungan lingkungan, dan kepadatan rendah. Bubur yang dihasilkan oleh filter busa keramik mengandung alumina, silika, senyawa kalsium, senyawa boron, dan sebagainya. Busa sel terbuka tersebut diresapi dengan bubur tersebut untuk menguapkan dan menyinter media penyangga.
Pelat filter keramik berbahan aluminium cor ini menawarkan metode yang efektif dan efisien untuk menghilangkan inklusi aluminium.
Efektivitas penyaringan yang sebenarnya akan bervariasi tergantung pada kondisi penggunaannya. Secara umum, semakin kecil ukuran pori pelat saring dan semakin rendah kecepatan penyaringan logam cair, semakin tinggi pula efektivitasnya.
Filter keramik untuk pengecoran harus dipanaskan terlebih dahulu sebelum digunakan.
Pelat filter harus benar-benar tertutup rapat di dalam rumah filter untuk memastikan bahwa cairan aluminium mengalir melalui filter keramik.
Jumlah total hasil penyaringan tidak boleh melebihi batas yang ditentukan. Jika kadar terak dalam cairan aluminium terlalu tinggi, diperlukan penyaringan tambahan atau penyesuaian untuk mengurangi hasil produksi.
Filter Keramik Indonesia Aluminium dapat secara efektif menghilangkan segala jenis kotoran halus dalam cairan aluminium, sehingga cairan aluminium tersebut membentuk aliran laminar yang lancar, yang memudahkan proses pengisian.
Bahan ini memiliki kekuatan mekanis dan stabilitas kimia yang baik, serta kemampuan pembersihan aluminium yang sangat baik. Ukuran pori dan rasio ukuran pori harus dikendalikan secara ketat untuk mencapai proses filtrasi yang stabil.
Filter Busa Keramik dikelilingi oleh gasket serat keramik yang mengembang secara termal, yang membantu menyegel pelat filter di dalam rumah filter guna memastikan tidak ada cairan logam yang menembusnya.
Menurut berita pada 24 November, Presiden Indonesia menegaskan kembali rencananya untuk menghentikan ekspor semua komoditas curah dan bahan baku. Ekspor bauksit kemungkinan akan dihentikan pada tahun 2022, ekspor tembaga pada tahun 2023, dan ekspor timah pada tahun 2024. Segera setelah berita tersebut muncul, hal itu memicu perdebatan sengit di kalangan industri.
1. Tinjauan sejarah dan latar belakang
Menurut data statistik dari Badan Survei Geologi Amerika Serikat (USGS), per akhir tahun 2020, cadangan bauksit Indonesia mencapai 1,2 miliar ton, menempati peringkat keenam di dunia.
Indonesia dulunya merupakan eksportir bauksit terbesar di dunia. Pada tahun 2013, ekspor bauksit negara ini menyumbang 51% dari total perdagangan global.
Pada tahun 2014, Indonesia menerapkan kebijakan larangan ekspor bijih mentah. Volume ekspor bauksit negara tersebut turun drastis, dan ekspor pun dihentikan pada tahun 2015. Langkah ini menyebabkan perubahan besar dalam pola perdagangan bauksit global.
Baru setelah pemerintah Indonesia mengeluarkan kebijakan kuota ekspor bauksit pada tahun 2017, ekspor bauksit Indonesia kembali dilanjutkan.
Sebelum tahun 2014, Indonesia merupakan negara asal utama impor bauksit negara saya, dan impor tahunan dari Indonesia mencapai 70–80% dari total impor bauksit negara saya.
Namun, sejak diberlakukannya larangan ekspor bijih mentah Indonesia, Guinea secara bertahap telah menggantikan Indonesia sebagai importir bauksit terbesar bagi negara saya.
Sejak tahun 2014, seiring dengan keberhasilan peluncuran proyek bauksit Guinea oleh Win Alliance, semakin banyak perusahaan Tiongkok yang berinvestasi dalam pengembangan bauksit di Guinea.
Hingga saat ini, enam proyek bauksit milik perusahaan yang didanai Tiongkok telah mulai beroperasi di Guinea, dengan total kapasitas produksi sebesar 101,5 juta ton per tahun, dan hampir seluruh bauksit yang dihasilkan telah dikirim kembali ke Tiongkok.
Selain itu, investasi asing dalam beberapa proyek bauksit, seperti Alcoa dan UAE Global Aluminum, juga mengirimkan sebagian bijih mereka ke Tiongkok setiap tahun.
2. Dampak
Berdasarkan data statistik bea cukai, sejak dimulainya kembali ekspor bauksit di Indonesia, impor bauksit negara kami dari Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun. Dari Januari hingga Oktober 2021, jumlahnya mencapai 13,76 juta ton, yang menyumbang 15% dari total impor bauksit.
Selama periode yang sama, impor bijih besi negara saya dari Guinea telah meningkat secara signifikan. Dari Januari hingga Oktober 2021, jumlahnya mencapai 48,045 juta ton, yang menyumbang 53% dari total impor, dan proporsinya terus meningkat dari tahun ke tahun.
Dari tahun 2014 hingga 2017, Indonesia melarang ekspor bauksit guna menarik investasi asing di bidang pengolahan sumber daya lokal. Selama periode tersebut, Hongqiao dan Nanshan sama-sama bekerja sama dengan perusahaan bauksit lokal untuk membangun pabrik alumina, masing-masing dengan kapasitas produksi sebesar 1 juta ton. Kedua tahap pembangunan tersebut saat ini sedang berlangsung.
Namun, industri bijih merupakan sektor andalan Indonesia. Pada Agustus 2017, Indonesia kembali melonggarkan pembatasan ekspor bauksit.
Tahun 2021 akan segera berakhir. Indonesia kembali menegaskan rencananya untuk menghentikan ekspor komoditas curah dan bahan baku. Kata yang disebutkan dalam berita tersebut adalah “mungkin.” Apakah prospek pasar tersebut akan direalisasikan dan bagaimana pelaksanaannya akan bergantung pada perkembangan situasi selanjutnya.












No Comments