27 Agustus cetakan aluminium, filter keramik berbusa
cetakan aluminium, filter keramik berbusa
Filter busa keramik (filter dengan pori-pori terbuka yang saling terhubung), yang digunakan dalam proses pengecoran paduan aluminium, sangat efektif dalam menahan inklusi non-logam.
Percobaan tersebut dilakukan dengan proses pengecoran ke dalam cetakan pasir, cetakan gipsum, dan cetakan keramik untuk pengecoran presisi.
Massa coran bervariasi mulai dari 3 kg (pencetakan dengan model yang dapat dilebur) hingga 360 kg (pencetakan di atas tanah). Cetakan diisi dengan paduan A 201 (A1 – 4,5%, Cu – 0,6%, Ag – 0,3%, Mn – 0,25%, Mg), A 356 (A1 – 7%, Si – 0,3%, Mg) dan 535 (A1 – 7%, Mg – 0,2%, Mn).
Filter-filter tersebut ditempatkan di rongga yang dibuat khusus di dalam kolektor.
Perbandingan luas penampang kolektor dan filter keramik berbusa, berdasarkan laju pengisian cetakan, ditetapkan sebesar 1:10.
Filter busa keramik dipasang sedekat mungkin dengan rongga cetakan.
Bagian cor yang dihasilkan dengan menggunakan filter keramik berbusa umumnya tidak memiliki cacat permukaan.
Awalnya, hal ini hanya berkaitan dengan proses penyaringan.
Namun, penelitian-penelitian selanjutnya menunjukkan bahwa penggunaan filter busa di dalam kristalisator membantu pengisian rongga kristalisator secara perlahan dan tanpa turbulensi, serta mengurangi kemungkinan terbentuknya inklusi oksida dalam logam.
Penelitian-penelitian sebelumnya mengenai penggunaan filter keramik berbusa untuk pengecoran batang dan pelat tipis menunjukkan penurunan yang signifikan pada kandungan inklusi non-logam.
Melalui pemeriksaan sinar-X, berhasil ditetapkan bahwa terdapat peningkatan kualitas yang signifikan pada hasil pengecoran dari semua paduan yang diteliti.
Sifat mekanis paduan Al-Cu dan Al-Si sedikit meningkat.
Pada paduan A1–Mg (yang sangat rentan terhadap pembentukan inklusi oksida), penggunaan filter berhasil meningkatkan batas kekuatan tarik pada 50% dan memperbesar perpanjangan hingga dua kali lipat.
Penelitian ini dilakukan di sejumlah bengkel pengecoran dengan menggunakan produk cor yang sebenarnya untuk keperluan kritis.
Dalam proses pengecoran jenis ini, biasanya digunakan jaring baja atau jaring serat kaca.
Hasil yang diperoleh dengan menggunakan filter keramik berbusa dievaluasi dengan membandingkannya dengan kualitas coran yang dihasilkan melalui teknologi konvensional.
Filter busa keramik berupa pelat yang diproduksi secara industri, dengan ketebalan 2,5 cm dan ukuran berkisar antara 5 × 5 cm hingga 10 × 15 cm.
Volume rongga berkisar antara 85–95%.
Bahan keramik untuk filter ini sebagian besar terdiri dari aluminium oksida dengan sedikit kromium oksida, yang memberikan warna hijau pada filter. Selain itu, juga digunakan filter putih yang terbuat dari oksida aluminium murni dengan kekuatan yang lebih tinggi; kemampuan penyaringannya tidak berbeda dengan filter hijau.
Semua coran diproduksi menggunakan teknologi standar yang lazim diterapkan dalam industri pengecoran, termasuk proses peleburan, sistem katup, dan penambahan bahan pengisi. Filter keramik berbusa dipasang sedekat mungkin dengan rongga cetakan agar pada tahap akhir pengecoran dapat dicegah masuknya oksida dan inklusi non-logam ke dalam coran.
Filter tidak disarankan untuk dipasang di bagian bawah pipa vertikal atau tepat setelah mangkuk saluran tuang, guna menghindari penyumbatan filter oleh lapisan oksida yang tebal.
Filter-filter tersebut ditempatkan secara vertikal di dalam kristalisator, tergantung pada teknologi pembuatan coran.
Filter berpori berfungsi menghambat pengisian cetakan, sehingga memperlambat laju pengisian.
Untuk menjaga laju pengisian cetakan, luas penampang melintang filter ditetapkan sekitar 10 kali lipat dari luas kolektor.
Ruang di antara filter dan rongga filter ditutup dengan campuran untuk mencegah terbentuknya celah serta aliran logam yang belum disaring ke dalam rongga cetakan.


Unit Penghilang Gas Secara Online Filter Busa Keramik Unit Penyaringan Tipe Pelat


Cincin Keramik Alumina Kerucut Tap Out Flux Pemurnian



Sorry, the comment form is closed at this time.